POPULASI DAN SAMPLE

A. Pengertian Populasi

Population -The group to which the researcher would like the results of a study to be generalizable; it includes all individuals with certain specified characteristics(Fraenkel &Norman, 1990)

Langkah pertama dalam memilih sebuah sample adalah menentukan populasi yang akan terlibat dalam sebuah penelitian dan untuk menentukan populasi tersebut maka peneliti harus tahu kemana hasil penelitiannya akan diterapkan. Fraenkel dan Norman (1990) mendefenisikan  populasi sebagai kelompok dimana peneliti ingin menerapkan hasil penelitian yang dilakukannya. Artinya populasi  merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus (Santoso & Tjiptono, 2002). Dari defenisi kedua ahli diatas maka populasi dapat diartikan sebagai  kelompok dimana peneliti ingin menerapkan hasil dimana kelompok tersebut  memiliki karakteristik tertentu .

Pengertian populasi tidak hanya berkenaan dengan ”siapa” tetapi juga berkenaan dengan apa. Istilah elemen, unit elementer, unit penelitian, atau unit analisis yang terdapat pada batasan populasi di atas merujuk pada ”siapa” yang akan diteliti atau unit di mana pengukuran  dan inferensi akan dilakukan (individu, kelompok, atau organisasi), sedang penggunaan kata karakteristik merujuk pada ”apa” yang akan diteliti. ”Apa” yang diteliti tidak hanya merujuk pada isi, yaitu ”data apa” tetapi juga merujuk pada cakupan (scope) dan juga waktu.

Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populasi disebut ukuran populasi. Ukuran populasi ada dua:

(1) populasi terhingga (finite population), yaitu ukuran populasi yang berapa pun besarnya tetapi masih bisa dihitung (cauntable). Misalnya populasi pegawai suatu perusahaan;

(2) Populasi tak terhingga (infinite population), yaitu ukuran populasi yang sudah sedemikian besarnya sehingga sudah tidak bisa dihitung (uncountable). Misalnya populasi tanaman anggrek di dunia.

B. Pengertian Sampel

Sample is group in a research study on which information is obtained (Fraenkel &Norman, 1990)

Salah satu langkah yang sangat penting dalam sebuah proses penelitian  adalah memilih sample yang akan digunakan (diobservasi atau di tanya) dalam penelitian. karena dasar untuk memberikan kesimpulan yang benar terhadap sebuah populasi ditentukan oleh pemilihan sample yang benar, repesentative terhadapa kelompok populasi. Secara umum diseluruh penelitian sample lebih kecil dibandingkan populasi. Sampel merupakan bagian (subset) dari populasi yang jenis & jumlahnya,  dipilih dengan cara tertentu sehingga dianggap dapat mewakili populasinya

Dalam penelitian yang menggunakan sampel sebagai unit analisis, baik pada penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan penelitian dengan pendekatan kualitatif, setidaknya terdapat dua hal yang menjadi masalah atau persoalan yang dihadapi, yaitu:

pertama, bahwa persoalan sampling adalah proses untuk mendapatkan sampel dari suatu populasi. Di sini sampel harus benar-benar bisa mencerminkan keadaan populasi, artinya kesimpulan hasil penelitian yang diangkat dari sampel harus merupakan kesimpulan atas populasi. Sehingga masalah yang dihadapi adalah bagaimana memperoleh sampel yang representatif, yaitu sampel yang dapat mewakili elemen lain dalam populasi atau mencerminkan keadaan populasi. Oleh karena itu kita perlu memahami ciri-ciri bagaimana sample yang baik,yaitu

  • Representatif (harus dapat mewakili populasi atau semua unsur sampel)
  • Batasan sampel harus jelas
  • Dapat dilacak dilapangan
  • Tidak ada keanggotaan sampel yang ganda(di data dua kali atau lebih)
  • Harus up to date (terbaru dan sesuai dengan keadaan saat dilakukan penelitian

C. Teknik Penarikan Sampel

Earl Babbie (1986) dikutip Prijana (2005) dalam bukunya The Practice of Social Research, mengatakan “Sampling is the process of selecting observations” (Sampling adalah proses seleksi dalam kegiatan observasi). Proses seleksi yang dimaksud di sini adalah proses untuk mendapatkan sampel.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disampaikan dua hal yaitu:

(1) Bahwa sampling adalah proses untuk mendapatkan sampel dari suatu populasi. Di sini sampel harus benar-benar mencerminkan populasi, artinya kesimpulan yang diangkat dari sampel merupakan kesimpulan atas populasi.

(2) Masalah yang dihadapi adalah tentang bagaimana proses pengambilan sampel, dan berapa banyak unit analisis yang akan diambil.

Untuk mendapatkan sample yang baik maka diperlukam metode pemilihan atau pengambilan sample (sampling) yang baik.Adapun ciri-ciri pengambilan sample yang baik adalah sebagai berikut :

  • Prosedurnya sederhana dan mudah dilaksakan
  • Dapat memilih sample yang representatif
  • Efisien dalam penggunaan sumber daya
  • Dpat memeberikan nformasiyang sebanyak-banyaknya mengenai sample

A. Populasi

Kelebihan:

—1.  Data dijamin lebih lengkap

—  2. Pengambilan kesimpulan/generalisasi lebih akurat

Kelemahan:

- Membutuhkan banyak sumber daya(biaya, tenaga, waktu)

- Tidak ada jaminan bahwa semua anggota populasi dapat didata/dilacak  dilapangan

B. Sampel:

Kelebihan:

- Efisien penggunaan sumberdaya(tenaga, biaya, waktu)

— – Anggota sampel lebih mudah didata/dilacak dilapangan

—  Kelemahan:

- Membutuhkan ketelitian dalam menentukan sampel

- Pengambilan kesimpulan/generalisasi perluanalisis yang  teliti dan dilakukan secara hati-hati

D. JENIS TEKNIK SAMPLING

Tipe sampling dapat dibedakan berdasarkan dua hal, yaitu :

1. Probability Sampling (Random Sampling)

2. Non Probability Sampling (Non Random Sampling)

1. Sampling Probalibility (Random sampling Methods)

Tipe sampling berdasarkan peluang pemilihannya terbagi atas sampling probabilitas (probability sampling) dan sampling nonprobabilitas (nonprobability sampling). Dalam sampling probabilitas, pemilihan sampel dilakukan secara acak dan dilakukan secara objektif, dalam arti tidak didasarkan semata-mata pada keinginan peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan tertentu untuk terpilih sebagai sampel.

Yang termasuk dalam sampling probabilitas adalah:

a.  Sampling acak sederhana (simple random sampling),

b.  Sampling sistematik (systematic sampling),

c.   Sampling berstrata (stratified sampling),

d.   Sampling bergugus (cluster sampling).

a. Yang dimaksud dengan Sampling Acak Sederhana adalah sebuah proses sampling yang dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap satuan sampling yang ada dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih ke dalam sampel.

b. Penarikan sampel sistematik (systematic sampling) merupakan pengambilan setiap unsur ke k dalam populasi, untuk dijadikan sampel. Pengambilan sampel secara acak hanya dilakukan pada pengambilan awal saja, sementara pengambilan kedua dan seterusnya ditentukan secara sistematis, yaitu menggunakan interval tertentu sebesar k.

c. Penarikan sampel berstrata dilakukan dengan mengambil sampel acak sederhana dari setiap strata populasi yang sudah ditentukan lebih dulu. Penarikan sampel acak berstrata, populasinya di skat-skat menjadi beberapa group yang disebut strata. Setiap strata memiliki elemen yang relatif homogen

d. Kluster ( Cluster ) adalah kumpulan / kelompok dari subjek sampel pada suatu wilayah geografik & lingkungan yang sama.

2. Sampling Non- Probability (Non Random Sampling Methods)

Selain sampling probabilitas, di muka disinggung tentang sampling nonprobabilitas. Sampling nonprobabilitas merupakan pemilihan sampel yang dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan peneliti, sehingga dengan tipe sampling nonprobability ini membuat semua anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel.

Nonprobability sampling dikembangkan untuk menjawab kesulitan yang timbul dalam menerapkan teknik probability sampling, terutama untuk mengeliminir biaya dan permasalahan dalam pembuatan sampling frame (kerangka sampel). Pemilihan nonprobability sampling ini dilakukan dengan pertimbangan: 1). penghematan biaya, waktu dan tenaga; dan 2) keterandalan subjektivitas peneliti (pengetahuan, kepercayaan dan pengalaman seseorang seringkali dijadikan pertimbangan untuk menentukan anggota populasi yang dipilih sebagai sampel). Yang termasuk pada sampling nonprobabilitas adalah convenience sampling, judgement sampling, quato sampling, dan snowball sampling.

Pada convenience sampling (sampling kemudahan), sampel diambil berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat dijadikan sampel. Dengan kata lain sampel diambil/terpilih karena ada ditempat dan waktu yang tepat. Tanpa kriteria peneliti bebas memilih siapa saja yang ditemuinya untuk dijadikan sampel.

Dengan demikian teknik sampling ini digunakan ketika peneliti berhadapan dengan kondisi karakteristik elemen populasi tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas, maka teknik penarikan sampel convenience, atau sering juga disebut sampling accidental menjadi salah satu pilihan. Teknik sampling convenience adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan karena alasan kemudahan atau kepraktisan menurut peneliti itu sendiri. Dasar pertimbangannya adalah dapat dikumpulkan data dengan cepat dan murah, serta menyediakan bukti-bukti yang cukup melimpah. Kelemahan utama teknik sampling ini jelas yaitu kemampuan generalisasi yang amat rendah atau keterhandalan data yang diperoleh diragukan.

Judgement sampling (dikenal juga dengan purposive sampling) adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan karakteristik yang ditetapkan terhadap elemen populasi target yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian. Dalam perumusan kriterianya, subjektivitas dan pengalaman peneliti sangat berperan. Penentuan kriteria ini dimungkinkan karena peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu didalam pengambilan sampelnya.

Teknik sampling kuota, pada dasarnya sama dengan judgment sampling, yaitu mempertimbangkan kriteria yang akan dijadikan anggota sampel. Langkah penarikan sampel kuota antara lain: pertama peneliti merumuskan kategori quota dari populasi yang akan ditelitinya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan ciri-ciri yang dikehendakinya, seperti jenis kelamin, dan usia. Kedua menentukan besarnya jumlah sampel yang dibutuhkan, dan menetapkan jumlah jatah (quotum). Selanjutnya, setelah jumlah jatah ditetapkan, maka unit sampel yang diperlukan dapat diambil dari jumlah jatah tersebut. Teknik sampling kuota biasanya digunakan bila populasinya berukuran besar.

Quota sampling (jatah) hampir mirip dengan teknik sampling stratifikasi. Bedanya, jika dalam sampling stratifikasi penarikan sampel dari setiap subpopulasi dilakukan dengan acak, maka dalam sampling kuota, ukuran serta sampel pada setiap sub-subpopulasi ditentukan sendiri oleh peneliti sampai jumlah tertentu tanpa acak. Mengapa bisa begitu? Karena pada kenyataannya sering dijumpai bahwa peneliti tidak dapat mengetahui ukuran yang rinci dari setiap subpopulasi, atau ukuran antar subpopulasi sangat jauh berbeda. Menghadapi kondisi seperti, maka peneliti dapat mempertimbangkan penggunaan teknik sampling kuota. Jadi, melalui teknik sampling kuota, penarikan sampel dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti untuk tujuan meningkatkan representasi sampel penelitian sampai jumlah tertentu sebagaimana yang dikehendaki peneliti.

Snowball Sampling merupakan salah satu bentuk judgement sampling yang sangat tepat digunakan bila populasinya kecil dan spesifik. Cara pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan secara berantai, makin lama sampel menjadi semakin besar, seperti bola salju yang menuruni lereng gunung. Hal ini diakibatkan kenyataan bahwa populasinya sangat spesifik, sehingga sulit sekali mengumpulkan sampelnya. Pada tingkat operasionalnya melalui teknik sampling ini, responden yang relevan di interview, diminta untuk menyebutkan responden lainnya sampai diperoleh sampel sebesar yang diinginkan peneliti, dengan spesifikasi/spesialisasi yang sama karena biasanya mereka saling mengenal.

Dibandingkan dengan teknik sampling nonprobabilitas lainnya, teknik ini memiliki keunggulan terutama dalam hal biaya yang relatif lebih rendah. Kelemahannya adalah kemungkinan bias yang relatif lebih besar karena pemilihan responden tidak independen (Zikmund, 2000: 362).

Berdasarkan uraian di atas tentang sampling peluang dan non peluang, seorang peneliti dapat dengan bebas menentukan tipe sampling mana yang akan digunakannya. Tetapi ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan untuk menentukan tipe sampling yang baik, diantaranya: (1) dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi, (2) dapat menentukan presisi dari hasil penelitian, (3) sederhana, mudah dilaksanakan, dan (4) dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin tentang populasi dengan biaya minimal.

E. Prosedur Penarikan Sampel

Setelah kita membahas pengertian sampling dan tipe-tipe sampling sebagaimana diuraikan di atas, selanjutnya untuk memudahkan pemahaman kita tentang bagaimana cara penarikan sampel serta cara memperoleh sampel yang representatif, akan disampaikan beberapa langkah atau prosedur dalam melakukan pengambilan sampel. Penarikan sample dapat dilakukan langkah-langkah berikut, diantaranya: (1) Menentukan populasi target, (2) Membuat kerangka sampling, (3) Menentukan ukuran sampel, (4) Menentukan teknik dan rencana pengambilan sampel, (5) Melakukan pengambilan sampel.

Langkah-langkah penarikan sampel diatas dapat kita uraikan sebagai berikut: (1) Pertama yang harus ditentukan dalam langkah mendesain penarikan sampel adalah menentukan populasi sasaran dengan tegas, yang dilanjutkan dengan penentuan populasi studi dari populasi sasaran tadi. (2) Menentukan area populasi, hal ini berkaitan dengan data penelitian yang akan dijadikan lokasi penelitian. (3) Menentukan ukuran populasi (size of population) sebagai dasar untuk menarik sampel. Biasanya populasi diambil dari data sensus. Carilah data tersebut secara lengkap, dapatkan data yang akurat dan up to date. (4) Buatlah kerangka sampling dengan memasukan data dari populasi studi secara lengkap dan jelas, serta hal yang terpenting adalah satuan-satuan sampling diberi nomor sesuai dengan jumlah digit populasinya, secara berurutan dari nomor paling kecil sampai dengan nomor yang paling besar. (5) Tentukan ukuran sampel dengan menggunakan rumus-rumus yang sesuai. (6) Gunakan tabel angka random ataupun program komputer sebagai alat seleksi. (7) Satuan sampling terpilih sebagai anggota sampel, merupakan langkah terakhir dari desain sampling yang pada hakikatnya merupakan cerminan dari populasi

F.     Menentukan Ukuran Sampel

Salah satu masalah yang dihadapi dalam teknik penarikan sampel adalah tentang berapa banyak unit analisis (ukuran sampel) yang harus diambil. Oleh karena itu, pada saat peneliti mengajukan usulan penelitian, disarankan untuk secara tegas memberikan gambaran operasional berupa ukuran sampel minimal yang akan digunakan untuk penelitiannya. Ukuran sampel ini akan memberikan isyarat mengenai kelayakan penelitian (eligibility of the research).

Ukuran sampel bisa ditentukan melalui dua dasar pemikiran, yaitu ditentukan atas dasar pemikiran statistis, dan atau ditentukan atas dasar pemikiran non statistis. Ditinjau dari aspek statistis, ukuran sampel ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) bentuk parameter yang menjadi tolak ukur analisis, dalam arti apakah tujuan penelitian ini untuk menaksir rata-rata, persentase, atau menguji kebermaknaan hipotesis, (2) tipe sampling, apakah simple random sampling, stratified random sampling atau yang lainnya. Tipe sampling ini berkaitan dengan penentuan rumus-rumus yang harus dipakai untuk memperoleh ukuran sampel, dan (3) variabilitas variabel yang diteliti (keseragaman variabel yang diteliti), makin tidak seragam atau heterogen variabel yang diteliti, makin besar ukuran sampel minimal. Sedangkan dipandang dari sudut nonstatistis, ukuran sampel ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) kendala waktu atau time constraint, (2) biaya, dan (3) ketersediaan satuan sampling.

KESIMPULAN

  1. Populasi merupakan keseluruh elemen, atau unit elementer, atau unit penelitian, atau unit analisis yang memiliki karakteristik tertentu yang dijadikan sebagai objek penelitian (kelompok yang menjadi penerapan dari hasil penelitian yang dilaksanakan)
  2. Sample adalah seluruh kelompok individu dimana informasi diperoleh
  3. Istilah “ sampling” dalam sebuah penelitian berarti berhubungan terhadap sebuah proses pemilihan individu yang akan dilibatkan (diobservasi atau ditanya) dalam suatu penelitian.
  4. Teknik sampling dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu Probability Sampling (Random Sampling) dan Non Probability Sampling (Non Random Sampling) e.Teknik Probability sampling (Random sampling) termasuk diantaranya adalah sampling acak sederhana (simple random sampling), Sampling sistematik (systematic sampling), Sampling berstrata (stratified sampling),  Sampling bergugus (cluster sampling); Teknik Non Probability Sampling (Non Random Sampling) termasuk diantaranya adalah sistematik sampling, convenience sampling dan purposive sampling

DAFTAR PUSTAKA

Deming, W.E., (1950). Some Theory of Sampling. New York: John Willey & Sons.

Fraenkel, Jack R.,& Wallen, Norman E. (1990). How to design and evaluate research in     education. New York : McGraw-Hill Publising  Company

James H. McMillan & Sally Schumacher. (2001). Research In Education a Conceptual Introduction. 5th Edition. New York: Addison Wesley Longmen Inc.

Leave a Reply